Sedih Berkepanjangan, Waspadai Gejala Depresi!

http://cdn.tinybuddha.com/wp-content/uploads/2015/10/Depressed-Woman.png
Sumber : tinybuddha.com

Sedih adalah hal biasa. Tetapi terus menerus merasa sedih dan tertekan hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, tentu bukanlah kondisi normal.

Depresi sebenarnya dapat terjadi di berbagai tahapan usia, mulai dari anak hingga dewasa. Dilansir Kompas, pada 2011, di Indonesia tercatat gangguan kecemasan dan depresi pada orang dewasa saja mencapai 11,6 persen. Tetapi mengingat banyak orang yang tidak mencari pertolongan untuk menanganinya, maka sebenarnya angka pengidap depresi juga sulit ditentukan secara pasti.

Umumnya orang enggan mengonsultasikan kondisinya karena depresi sering dianggap hanya sebagai kelemahan, bukan sebagai kondisi serius yang perlu diperiksakan. Padahal seperti penyakit lain, depresi punya gejala-gejala yang nyata, dengan penyebab yang sebagian juga bersumber dari kondisi medis tertentu.

Membedakan Depresi dengan Kesedihan Sesaat

Bagaimana cara membedakan sedih biasa dengan depresi? Gejala depresi dapat sangat beragam sesuai penyebabnya. Namun secara umum pengidap depresi umumnya:

  • Merasakan kesedihan dan putus asa yang sangat dalam dan berkepanjangan.
  • Terus menerus merasa cemas dan lelah,
  • Tidak ingin makan, berhubungan seksual, ataupun melakukan kegiatan yang tadinya merupakan kesenangannya.
  • Terus mengeluh sakit pada beberapa anggota tubuhnya seperti gangguan pencernaan dan sakit kepala. Sakit fisik ini tidak bisa diobati dengan penanganan medis.
  • Terus menerus merasa bersalah dan tidak berharga.
  • Terlalu banyak tidur, ataupun sebaliknya, susah tidur.
  • Terpikir untuk bunuh diri.
  • Sulit berkonsentrasi dan mengingat, apalagi membuat keputusan.

Beragamnya latar belakang depresi juga membuat tingkat keparahan pengidap juga berbeda-beda. Merasa tidak bersemangat selama beberapa hari bisa jadi merupakan gejala depresi dalam tahap ringan. Depresi ringan ini umumnya dapat diatasi sendiri dengan perubahan gaya hidup dan memulai kebiasaan baru yang positif seperti meditasi dan berlatih berpikir positif.

Akan tetapi pengidap depresi dalam tingkat parah dapat merasa ingin bunuh diri karena merasa hidupnya tidak lagi berguna. Oleh karenanya sebaiknya siapapun tidak menunggu terlalu lama untuk memeriksakan diri jika merasa dirinya kemungkinan mengalami depresi.

Perubahan Besar dalam Hidup dapat Memicu Depresi

Penyebab depresi sendiri dapat sangat beragam mulai dari trauma, rendah diri, hingga konsumsi obat terlarang dan atau minuman keras. Trauma sendiri dapat disebabkan perubahan besar dalam hidup seperti kehilangan pekerjaan, melahirkan anak pertama, ataupun kehilangan orang yang dikasihi.

Secara medis, pemicu depresi juga dapat ditelusuri dari riwayat keluarga yang juga pernah mengidap depresi, gangguan mental, bipolar, dan penyakit kronis seperti kanker. Depresi bahkan juga dapat dipicu dari konsumsi obat tertentu seperti obat untuk menangani tekanan darah tinggi ataupun obat tidur.

Selain hal-hal di atas, depresi juga dapat disebabkan berbagai faktor lain seperti:

  • Reaksi kimia pada otak: perubahan pada fungsi dan efek neurotransmiter berperan penting dalam memicu depresi.
  • Adanya perubahan fisik pada otak.
  • Perubahan keseimbangan hormon, terutama di masa tertentu seperti kehamilan, pasca-persalinan, dan menopause juga dapat berpotensi menyebabkan depresi.

Sebaliknya, depresi yang tidak segera ditangani dengan baik juga berisiko membahayakan kesehatan. Pengidap depresi bisa jadi akan mengalami kelebihan berat badan, menyakiti diri sendiri, konflik dengan keluarga atau teman dekat, mengidap penyakit fisik, mengisolasi diri secara sosial, mengonsumsi minuman keras dan obat terlarang, hingga ingin bunuh diri.

Penanganan depresi umumnya disesuaikan dengan penyebab, jenis, dan tingkat keparahannya, seperti pemberian obat-obatan hingga terapi, ataupun kombinasi keduanya. Perubahan gaya hidup seperti berhenti merokok dan mengonsumsi minuman keras, membiasakan makan makanan sehat, dan lebih banyak olahraga, dapat menjauhkan Anda dari kemungkinan depresi.

Sumber : mayoclinic, NHS, webmd, kompas

 

Facebook Comments