Mengupas Homoseksual, Transeksual dan Transgender Segi Medis

Oleh : Yuda Hananta

http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/01768/science-23110_1768472b.jpg
Sumber : telegraph.co.uk

Siapa yang tidak mengenal Thailand, sebagai salah satu tempat di mana para transgender dapat beroperasi dan merubah diri mereka sebagai transeksual? Lalu, apa yang membedakan antara transgender dengan transeksual dalam diri seseorang? Apakah selamanya transgender akan menjadi transeksual?

Transgender merupakan bentuk variasi orientasi seksual dan identitas ekspresi gender. Seorang berjenis kelamin pria berkelakuan dan berdandan seperti wanita, salah satu contohnya. Menurut International Classification of Disease (ICD) yang dirumuskan Badan kesehatan Dunia (WHO) dijelaskan pada gangguan psikologis dan perilaku terkait perkembangan dan orientasi seksual menegaskan bahwa transgender dan homoseksual tidak dapat dipandang sebagai gangguan.

Lebih lanjut dipaparkan bahwa yang dianggap sebagai gangguan adalah orientasi seksual ego-distonik, yaitu identitas gender dan preferensi seksual indvidu tersebut jelas, tetapi individu ini mengharapkan kondisi lain. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh gangguan psikologis dan perilaku sehingga perlu upaya dalam mengubah kondisi dengan berbagai cara. Orientasi seksual egodistonik masuk ke dalam Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorders (DSM) yang disusun oleh Asosiasi Psikiater Amerika.

Dalam hal ini, para transgender yang tidak merubah bentuk dan keadaannya secara fisik maka tidak dapat dikategorikan sebagai orientasi seksual ego-distonik. Sedangkan, seorang transgender yang merubah kondisi fisik serta alat kelamin mereka dapat dikategorikan sebagai seorang transeksual dan mereka mengalami ego-distonik.

Transeksualisme dalam ICD diklasifikasi sebagai gangguan identitas gender. Transeksual dikelompokkan dalam kondisi terkait kesehatan seksual dan bukan diagnosa gangguan mental dan perilaku. Sementara menurut acuan Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa Internasional (DSM)  mencatat bahwa transgender dan transeksual merupakan cakupan diagnosis Gender Dysphoria. Mereka yang mengalami Gender Dysphoria adalah individu yang merasa dirinya terjebak dalam kondisi biologis yang tidak seharusnya mereka atau merasa tidak puas dengan gender yang dimiliki. Sehingga dalam hal ini mereka mencoba mencari bentuk identitas orientasi seksual maupun gender mereka, baik yang hanya merubah penampilan sampai merubah jenis kelamin.

Terkait topik kesehatan seksual, masalah kesehatan yang sering dikaitkan dengan homoseksual dan transgender adalah terkait infeksi menular seksual dan HIV-AIDS. Namun demikian, diketahui bahwa pada prinsipnya risiko infeksi menular seksual dan HIV-AIDS meningkat terkait perilaku seksual, yakni pada hubungan seks dengan pasangan yang berganti-ganti dan tidak terlindungi kondom dan tidak terkait langsung dengan orientasi seks individu tersebut. Laporan yang menujukkan jumlah kasus lebih tinggi pada kelompok dengan orientasi seks tertentu patut dicermati dan dikritisi terkait metode survey dan pelaporannya. Resiko mengalami infeksi menular seksual dan HIV pada individu homoseksual dan transgender yang monogami atau hanya memiliki satu pasangan tetap sama kecilnya dengan individu heteroseksual yang monogami dan sebaliknya. Lebih lanjut, perilaku seks pada kelompok homoseks dan transgender dapat saja sangat bervariasi, dipengaruhi faktor personal, seperti kepribadian, pengetahuan, pendidikan, kesejahteraan, kesempatan kerja serta faktor sosial, seperti penerimaan atau tidaknya homoseksualitas dan konsep hubungan monogami pada homoseksual.

Pro-kontra terkait aspek hukum dan HAM variasi orientasi seksual dan ekspresi gender ini tidak hanya terkait pernikahan, tetapi meliputi banyak hal seperti perlindungan terhadap kekerasan dan pelecehan, kesetaraan akses terhadap pendidikan dan kesempatan kerja, ikatan sipil dan bentuk hubungan lain, ketentuan terkait anak seperti adopsi atau bayi tabung,  kependudukan dan migrasi atau perubahan status jenis kelamin pada transgender serta kesempatan partisipasi dalam upaya kesehatan.

Telaah komprehensif, kajian ilmu pengetahuan dan objektif terkait variasi orientasi seksual dan ekspresi gender perlu terus dilakukan dengan mengintegrasikan tinjauan kesehatan, agama, budaya, dan hukum dalam rangka mewujudkan perlindungan, harmoni, dan tercapainya kesejahteraan bagi sesama manusia.Tinjauan kearifan lokal memang sepatutnya senantiasa diupayakan, meski demikian diyakini terdapat nilai-nilai universal pada berbagai konsep hak asasi manusia, termasuk pada keragaman orientasi seksual dan identitas-ekspresi gender.

Profil :

Yuda Hananta

Dokter Umum, Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada;
Kandidat PhD Bidang Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Universitas Amsterdam, Belanda;
Peneliti pada Departemen Penyakit Infeksi Dinas Kesehatan Kota Amsterdam;
Awardee PhD Mobility Program 2015, University of Sydney – WHO Collaborating Center for Sexually Transmitted Infections – Western Sydney Sexual Health Center
Pengurus Harian Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Cabang Kota Yogyakarta
Meminati topik seksualitas, penyakit infeksi dan travel medicine.

Facebook Comments