Mengenal Gender Dysphoria Pada LGBT

http://www.renaemadisongage.com/wp-content/uploads/2015/02/Gender-Dysphoria-672x372.jpg
sumber : renaemadisongage.com

Isu LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender) yang kian menguak saat ini menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat, khususnya di tanah air. Menyoal hal tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorders (DSM) dan Pedoman dan Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III bahwa LGBT masuk ke dalam Gender Dysphoria dan bukan termasuk gangguan jiwa. Namun hal ini ada kaitannya dengan golongan Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK). Lalu, apa yang dimaksud dengan Gender Dysphoria?

Gender Dysphoria dan gender yang tertukar

Dilansir dari situs psychology today, Gender Dysphoria didefinisikan sebagai perasaan yang sangat kuat oleh seseorang mengenai kesalahan orientasi seksual mereka yang memiliki keterbalikan dari apa yang melekat pada mereka dan merasa tidak   dengan orientasi seksual yang ada pada diri mereka. Seseorang yang mengalami gender dysphoria biasanya bertingkah laku dan berpakaian berkebalikan dengan jenis kelamin yang mereka miliki saat ini.

Contohnya yaitu seorang merasa bahwa dirinya berada di dalam “tubuh yang salah”. Seorang perempuan yang berpakaian dan berperilaku maskulin layaknya seorang laki-laki, karena ia merasa bahwa dirinya bukanlah seorang perempuan. Begitu juga sebaliknya, seorang laki-laki berpakaian dan bertingkah laku seperti perempuan merasakan bahwa dia seharusnya tidak menjadi seorang laki-laki, akan tetapi menjadi perempuan merupakan bentuk kenyamanan mereka. Tidak hanya merubah penampilan dan tingkah laku, seseorang yang mengalami gender dysphoria yang kuat tidak segan-segan untuk mengubah jenis kelamin mereka sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Keadaan seperti itulah yang membuat seseorang dengan Gender Dysphoria mengalami permasalahan dalam kondisi psikis dan kejiwaan. Kondisi tersebut dinyatakan berbeda dari gangguan jiwa. Mereka yang menjadi seorang transgender rentan terhadap ketidakstabilan mental memiliki dinamika kejiwaan egodistonik.

Tidak hanya itu saja, mereka yang menjadi seorang LGBT tidak jarang sulit diterima oleh lingkungan sekitar. Hal tersebut yang bisa membuat mereka semakin tertekan dan depresi.

Awal Mula dan dampak psikis Gender Dysphoria

Permasalahan psikis yang tampak pada seseorang yang mengalami Gender Dysphoria bukanlah pada apa yang akhirnya mereka pilih tetapi depresi karena penolakan di lingkungan mereka terhadap apa yang mereka pilih atau pikiran yang berkecamuk di dalam diri mereka ketika mereka merasa bahwa apa yang ada pada diri mereka tidaklah sesuai dengan yang mereka inginkan.

Penolakan terhadap seseorang yang mengalami Gender Dysphoria tidak sedikit datang pula dari keluarga dan orang-orang terdekat mereka. Keluarga dan orang tua yang semestinya memiliki peranan penting untuk merangkul, mereka anggap sebagai musuh karena tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Seseorang merasa dirinya berada di tubuh yang salah bisa dialami sejak kecil. Dilansir dari situs nhs.uk, sampai saat ini memang masih belum ada penelitian yang pasti menunjukkan mengenai Gender Dysphoria, tetapi ada beberapa riset yang menyatakan bahwa seorang yang mengalami Gender Dysphoria berawal dari bayi abnormal, dan kemungkinan berasal dari kelainan hormon dan genetik.

Setiap jenis kelamin manusia ditentukan oleh kromosom. Pada dasarnya, setiap janin memiliki kromosom X yang menjadikan seorang dengan jenis kelamin perempuan. Kromosom X janin merupakan kromosom bawaan diturunkan dari Ibu. Di minggu ke delapan, janin mendapatkan kromosom yang diwariskan dari sel Ayah dan kromosom tersebut bisa menjadi dua, kromosom X dan kromosom Y. apabila Ayah mewarisi kromosom X, maka janin tersebut akan berkembang hormon perempuan. Kromosom tersebut mempengaruhi hormon yang tumbuh pada janin, harmoni pada otak, organ reproduksi dan alat kelamin sehingga seks dan gender keduanya adalah perempuan.

Jika kromosom seks yang diwarisi ayadah adalah Y, janin akan berkembang sebagai biologis laki-laki.kromosom Y menciptakan hormon testosteron dengan jumlah yang banyak dan hormon lain yang menghamonisasikan otak, organ reproduksi dan alat kelamin sehingga seks dan gender yang akan tumbuh adalah laki-laki.

Akan tetapi, dalam beberapa kasus, ada pula bayi perempuan yang memiliki kromosom yang sesuai yaitu XX untuk bayi perempuan dan XY untuk bayi laki-laki namun identitas gender mereka tidak sesuai dengan jenis kelamin. Hal tersebut bisa jadi merupakan kondisi langka seperti kondisi interseksual.

Kondisi interseksual yang menyebabkan seorang bayi memiliki jenis kelamin yang tidak dapat diketahui (ambiguous genitalia). Pada kasus ini, orang tua direkomendasikan untuk membantu anak memilih gender yang mana untuk mereka besarkan. Namun disisi lain lebih baik menunggu sampai anak memilih identitas gender mereka sendiri.

 

Facebook Comments