Memahami 5 Jenis dan Jadwal Imunisasi Dasar pada Anak

Imunisasi merupakan upaya memberikan kekebalan (imunitas) pada bayi atau anak yang dilakukan dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar ia terhindar dari penyakit. Sedangkan yang dimaksud dengan vaksin adalah bahan yang digunakan untuk merangsang pembentukan zat anti. Cara pemberian vaksin bisa melalui suntikan atau secara oral (melalui mulut). Tujuan imunisasi adalah agar bayi dan anak kebal terhadap penyakit tertentu sehingga dapat menurunkan risiko terkena penyakit dan kematian serta dapat mengurangi risiko cacat.

Di Indonesia terdapat jenis imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah. Imunisasi ini disebut dengan imunisasi dasar. Sebaiknya, imunisasi dasar yang dilakukan dengan metode suntik dilakukan oleh dokter umum, atau lebih baik lagi dengan dokter spesialis anak karena dokter spesialis anak lebih kompeten dalam melakukannya. Berikut ini beberapa contoh imunisasi dasar yang perlu Anda pahami agar kesehatan bayi dan anak lebih terjaga.

  1. Imunisasi Hepatitis B

Imunisasi hepatitis B merupakan imunisasi yang ditujukan untuk mencegah penyakit hepatitis. Imunisasi dilakukan oleh dokter anak saat bayi berusia kurang dari tujuh hari dan diberikan cukup satu kali.

  1. Imunisasi BCG (Bassilus Calmette Guerin)

Imunisasi ini diberikan oleh dokter anak cukup satu kali saat bayi berusia satu bulan. Tujuan imunisasi BCG adalah untuk mencegah terjadinya penyakit TBC (tuberculosis). Meskipun telah dilakukan imunisasi, penyakit TBTBC tetap dapat terjadi namun relatif lebih ringan daripada mereka yang tidak mendapat imunisasi BCGsecara ringan. Dengan pemberian imunisasi, maka bayi atau anak akan terhindar dari penyakit TBC berat. Umumnya, setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan kemerahan pada kulit yang disuntik. Kemudian, pembengkakan tersebut akan membaik dengan sendirinya dan hanya meninggalkan luka kecil.

  1. Imunisasi Polio

Imunisasi ini digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis (polio) yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak. Imunisasi ini diberikan secara oral sehingga tidak selalu dilakukan oleh dokter anak. Vaksin polio diberikan empat kali dengan frekuensi dua bulansebulan sekali mulai dari usia bayi baru lahirsatu bulan.

  1. Imunisasi DPT (diphteria, pertussis, tetanus)

Sesuai namanya, vaksin DPT diberikan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Imunisasi diberikan tiga kali oleh dokter spesialis anak dengan frekuensi dua bulansebulan sekali mulai dari usia bayi dua bulan. Umumnya, bayi akan menderita demam setelah mendapatkan imunisasi DPT, namun akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari. Bagian tubuh yang disuntik akan terasa nyeri, sakit, memerah atau bengkak pada sebagian anak.

  1. Imunisasi Campak

Imunisasi ini diberikan sekali saja saat bayi berusia sembilan bulan, diberikan booster pada usia 24 bulan dan 6 tahun. Tujuannya agar bayi atau anak tidak terkena penyakit campak yang dapat mengakibatkan komplikasi radang paru, radang otak, dan kebutaan. Efek samping imunisasi ini anak mungkin akan mengalami demam selama 4–10 hari setelah imunisasi.

Apakah imunisasi si kecil sudah lengkap? Jika belum, tunggu apa lagi? Lengkapi imunisasinya agar kesehatan anak di masa depan lebih terjaga. Segera buat jadwal kunjungan dengan dokter spesialis anak terbaik melalui Konsula.

Sumber:

  • Hidayat, A.A.A, 2008, Pengantar Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan, Salemba Medika, Jakarta
  • Supartini, Y., 2002, Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
  • pppl.depkes.go.id
  • idai.or.id
Facebook Comments