Jenis Kelamin dan Identitas Seksual Manusia

Oleh : Dr. Yuda Hananta

http://kfmbfm.com/wp-content/uploads/2016/02/men-women.jpg

Tidak hanya manusia, jenis kelamin atau seks ada pada setiap makhluk hidup. Dalam setiap jenis kelamin dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu perempuan dan laki-laki atau betina dan jantan. Secara biologis, bentuk kelamin antara keduanya berbeda. Pada perempuan, alat kelamin disebut vagina dengan memiliki liang yang terhubungkan ke bagian rahim dan indung telur. Rahim pada perempuan dapat berfungsi sebagai tempat tumbuh kembangnya kandungan yang menjadi cikal bakal seorang anak. Sedangkan pada laki-laki, alat kelamin disebut penis yang berbeda bentuk dengan vagina perempuan, memiliki testis yang menghasilkan sperma. Apabila sel telur yang tersimpan dalam indung telur perempuan bertemu dengan sperma yang tersimpan dalam testis laki-laki, maka terjadilah pembuahan.

Identitas laki-laki dan perempuan juga dapat dibedakan dari segi hormon yang dihasilkan pada masing-masing jenis kelamin. Perempuan memiliki hormon estrogen dan progesterone yang dihasilkan oleh indung telur. Hasil dari kedua hormon tersebut yaitu menciptakan :

  1. Pengaruh pada penampilan kulit perempuan yang lebih halus
  2. Pertumbuhan rambut yang cepat
  3.  Mengatur pubertas perempuan
  4. Payudara yang lebih menonjol
  5. Merangsang siklus menstruasi

Sedangkan pada lelaki, hormon yang dihasilkan oleh testis yaitu hormon testosteron. Hormon ini dapat menciptakan keadaan fisik laki-laki sebagai berikut :

  1. Tumbuhnya bulu-bulu halus dan rambut pada wajah
  2. Suara yang semakin berat
  3. Alat kelamin yang berkembang
  4. Penghasil sperma

Akan tetapi perlu diketahui, baik hormon estrogen maupun testosteron ada pada setiap jenis kelamin dengan kadar dan dominasi yang berbeda.

Jenis kelamin pada dasarnya ditentukan kode genetik yang terdapat pada kromosom di dalam inti setiap sel. Keberadaan kromosom XX pada janin yang sedang berkembang akan membawa ke arah perkembangan kelamin perempuan, sedangkan keberadaan kromosom XY membawa ke arah perkembangan kelamin laki-laki. Namun demikian, variasi kode genetic seperti XXY atau  XO, menjadikan adanya variasi lain dari jenis kelamin seseorang.

Hermafrodit adalah istilah yang digunakan untuk keadaan di mana seseorang memiliki dua jenis kelamin yang ada di dirinya, baik laki-laki maupun perempuan. Ada pula beberapa orang yang lahir dengan keadaan alat kelamin yang tidak dapat ditentukan apakah laki-laki atau perempuan, keadaan yang disebut ambiguous genitalia.

Alat kelamin adalah bagian penting, tapi bukan satu-satunya yang berperan dalam fungsi seksualitas seseorang. Otak manusia memiliki peran penting dalam persepsi seksual, hasrat seksual, dan regulasi fungsi seksual lain. Lebih lanjut, bahkan setiap bagian tubuh manusia, tidak terbatas pada alat kelamin, dapat saja memunculkan hasrat seksual, terlibat dalam berbagai bentuk aktivitas seksual dan menimbulkan kenikmatan seksual. Di sisi lain, dalam kehidupan manusia, aktivitas seks memiliki beberapa fungsi:

  1. reproduksi (menuruskan keturunan),
  2. relasi (membentuk hubungan dengan orang lain)
  3. rekreasi (menimbulkan kesenangan).

Tergantung situasi dan kondisinya, motivasi dan tujuan seseorang melakukan hubungan seks dapat terkait salah satu atau kombinasi dari beberapa fungsi tersebut.

Seseorang membangun dan mengembangkan aspek-aspek seksualitas sepanjang hidupnya, bahkan sejak masa-masa awal kehidupannya dalam kandungan. Tidak sekedar perkembangan fisik alat kelaminnya, tapi juga fungsi seksualitas lain, termasuk persepsi dan hasrat seksual, identitas dan tilikan diri, dsb melalui perkembangan pusat-pusat regulasi seksualitas dan pusat kendali lain di otak.

Berkenaan dengan itu, melalui serangkaian studi yang telah dilakukan sejak beberapa puluh tahun lalu, ilmuwan sampai pada pemahaman-pemahaman bahwa perkembangan berbagai aspek seksualitas ini secara garis besar dapat ditinjau dari dua faktor utama: aspek biologis dan aspek non-biologis (termasuk aspek psiko-sosial, budaya, dsb), interaksi antara keduanya, atau bukan keduanya.

Teori biologi mempercayai bahwa orientasi seksual dan ekspresi gender dipengaruhi oleh beberapa faktor genetik dan faktor hormonal. Beberapa contoh teori dan temuan terkait pandangan ini, antara lain: mutasi genetic pada kromosom X terkait homoseksualitas menurut Hamer, kondisi paparan level hormonal tertentu semasa janin dalam kandungan yang mempengaruhi perkembangan otak janin didapatinya perbedaan struktur hipotalamus pada otak laki-laki heteroseksual dibandingkan pada homoseksual (LeVay, 1993; Mustanski et al., 2002) studi kesamaan orientasi seks pada kembar identik yang dibesarkan di lingkungan terpisah (Bailey & Pillard, 1991; Mustanski et al., 2002). Meski demikian, temuan-temuan tersebut sifatnya adalah petunjuk, tetapi belum dapat dipastikan sebagai penyebab tunggal atau sekumpulan kombinasi penyebab jelas terhadap homoseksualitas.

Dari sisi perkembangan psikologis, beberapa teori-teori psikoanalisis dan teori belajar mencoba menjelaskan tentang perkembangan orientasi seksual dan ekspresi gender ini: Kondisi dan pengasuhan semasa anak-anak, dimana kebiasan atau perilaku tertentu, misalnya anak laki-laki yang berdandan seperti anak perempuan, diberi mainan anak perempuan mengarahkan ke identifikasi diri sebagai homoseksual di kemudian hari  (menurut Bailey & Zucker, 1995; Ruble et al., 2006), tapi juga dinyatakan sebaliknya, bahwa justru perasaan dan identitas diri mula-mula sebagai homoseksual yang mengarahkan perilaku tersebut (menurut Carver, Egan, & Perry, 2004; Hammack, 2005; Nicolosi & Byrd, 2002). Trauma seksual di masa perkembangan, ketidakharmonisan keluarga, kehilangan salah satu figur orang tua, dsb sempat dihipotesiskan dan diasumsikan terkait perkembangan homoseksualitas, namun sejauh ini tidak ditemukan hubungan jelas kondisi lingkungan tertentu atau pola asuh tertentu dengan perkembangan orientasi seksual tertentu pada anak.

Studi-studi terkait perkembangan orientasi seksual dan identitas-ekspresi gender ini terus dilakukan di berbagai belahan dunia. Namun sejauh ini, secara umum dinyatakan orientasi seksual berkembang secara unik pada seorang individu dengan mekanisme yang kompleks  dan multifaktorial sejak dia berada dalam kandungan dan terus berkembang di masa-masa yang akan dating dan orientasi seksual dinyatakan bukan merupakan pilihan.

Profil :

Yuda Hananta

Dokter Umum, Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada;
Kandidat PhD Bidang Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Universitas Amsterdam, Belanda;
Peneliti pada Departemen Penyakit Infeksi Dinas Kesehatan Kota Amsterdam;
Awardee PhD Mobility Program 2015, University of Sydney – WHO Collaborating Center for Sexually Transmitted Infections – Western Sydney Sexual Health Center
Pengurus Harian Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Cabang Kota Yogyakarta
Meminati topik seksualitas, penyakit infeksi dan travel medicine.

 

Facebook Comments