Ekspresi Gender dan Orientasi Seksual Manusia

 

Oleh : Yuda Hanantahttp://www.hum.wa.gov/media/dynamic/covers/84_rbflg.jpg

Topik mengenai orientasi seksual dan gender seperti LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) saat ini sedang hangat diperbincangkan di ranah publik. Menyeruaknya isu kontroversional tersebut di tanah air berawal dari legalitas pernikahan sesama jenis yang dikeluarkan oleh negeri Paman Sam. Ada yang perlu dipahami dari pengertian gender dan orientasi seksual pada manusia.

Sejatinya, manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki logika dan nalar dalam berpikir, maka dalam berinteraksi, manusia tidak hanya mengandalkan identitas mereka sesuai dengan jenis kelamin, tetapi juga pada ekspresi gender maupun orientasi seksual.

gender dan sejarah masa ke masa

Meski berbagai survey tidak selalu dapat menggambarkan situasi persis di masyarakat, tinjauan sejarah, etnologi dan antropologi membantu memberi petunjuk tentang keberadaan variasi orientasi seksual maupun ekspresi dan identitas gender sesuai tradisi di berbagai tempat di seluruh dunia, dari masa ke masa.

Adanya variasi orientasi seksual dan ekspresi gender sejak jaman purbakala dapat ditemukan pada berbagai peninggalan sejarah. Bukti prasejarah tertua berupa sepasang batu sebagai symbol sepasang alat kelamin laki-laki diduga berasal dari tahun 5000 sampai 10.000 SM ditemukan di Sisilia, Italia. Bukti-bukti lain ditemukan pada relief masa Rammeside yaitu pada zaman Mesir Kuno, literatur dan lukisan masa Han dan Qing dari China, masa Yunani Kuno dan Romawi Kuno di Eropa.

Beberapa tempat di belahan bumi juga memiliki sebutan-sebutan atau istilah untuk mereka yang mengalami variasi orientasi seksual dan gender. Di Asia Tenggara seperti di wilayah Thailand dan Laos terdapat istilah untuk waria dan lelaki homoseksual yang bertingkah laku seperti perempuan dengan sebutan Kathoey. Sedangkan di India, istilah untuk gender ketiga disebut dengan Hijra. Secara ilmu pengetahuan, istilah homoseksualitas baru diperkenalkan oleh seorang dokter asal Jerman, Dr. K. M. Kertbeny pada tahun 1869.

Di tanah air, bentuk-bentuk dari variasi orientasi seksual dan identitas gender dijumpai di berbagai tradisi. Misalnya dalam adat Bugis, Sulawesi ada seseorang yang disebut Bissu, Calabai dan Calalai. Di daerah Jawa Timur, Reog Ponorogo memiliki salah satu bentuk pola hubungan homoseksual yang dilakukan oleh Warok dan Gemblakan.

Ditinjau dari segi keterbukaan dan perkumpulan, setelah masa kemerdekaan, pada 1969 Gubernur DKI Jakarta Raya Ali Sadikin memfasilitasi pendirian organisasi wadam (istilah untuk waria pada saat itu) yang dikenal dengan Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD). Organisasi gay terbuka pertama di Indonesia dan Asia, Lambda Indonesia, berdiri, dengan sekretariat di Solo pada 1982, dilanjutkan cabang-cabangnya di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta dan tempat tempat lain, hingga pada 1987 berdiri Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara (KKLGN) di Pasuruan-Surabaya, yang kemudian dikenal sebagai GAYa NUSANTARA (GN).

Variasi orientasi seksual dan ekspresi gender terus ditelaah hingga hari ini, dan dinamika keterbukaan akan keberadaannya di tengah masyarakat bervariasi di berbagai belahan dunia, terkait pandangan norma-sosial, religi, dan hukum setempat di setiap negara tersebut.

Ekspresi gender, identitas gender dan orientasi seksual

Ekspresi gender di sisi lain merupakan bentuk-bentuk karakteristik yang terkait peran seseorang dengan jenis kelamin tertentu dalam kehidupan sehari-hari, seperti gaya dan penampilan, cara berpakaian, bertingkah laku, cara berbicara atau apa yang dikerjakan mereka. Maka dari itu, gender diklasifikasi menjadi dua yaitu maskulin dan feminin. Maskulin biasanya lebih menunjukkan kekuatan dan dominasi laki-laki, sedangkan feminin biasanya merujuk kepada hal-hal lemah lembut dan terlihat sebagai bentuk identitas kedua setelah maskulin.

Sebetulnya tidak ada hal khusus yang menjadi titik acu aturan gender, namun gender sangat terkait dengan cara pandang tradisional dan subjektifitas sehingga ada beberapa cara pandang yang berbeda antara tradisi satu dengan tradisi lain. Contohnya, adanya perbedaan tugas seperti di dalam berumah tangga, perempuan berurusan dengan memasak dan kebutuhan dapur sedangkan seorang laki-laki bekerja mencari nafkah. Dalam berpakaian, yang menandakan seseorang berjenis kelamin perempuan adalah karena memakai rok dan laki-laki memakai celana. Akan tetapi saat ini, tidak sedikit laki-laki yang menjadi koki atau chef, perempuan menjadi wanita karier dan di daerah Skotlandia, seorang laki-laki memakai rok mencirikan maskulinitas. Atau tidak selamanya lelaki yang berambut panjang berarti dia feminin.

Identitas gender adalah keadaan perasaan dan pikiran seseorang tentang dirinya sendiri, terkait jenis kelamin yang dimilikinya dan ekspresi gender yang ditampilkannya. Identitas gender dapat digolongkan menjadi: pria (men) dan wanita (women), dengan kondisi variasi di antaranya (disebut genderqueer). Genderqueer meliputi pula seseorang yang mengidentifkasikan dirinya sebagai pria maupun wanita secara bersamaan, bergantian, berubah-ubah, atau tidak sebagai pria maupun sebagai wanita, atau sebagai bentuk identitas gender lain yang sulit didefinisikan.

Seseorang yang identitas gendernya tidak bersesuaian dengan jenis kelaminnya sehingga cenderung menampilkan pola ekspresi gender sesuai cara pandang dirinya disebut sebagai transgender. Di Indonesia, waria adalah istilah untuk seorang yang dilahirkan dalam jenis kelamin laki-laki yang identitas gendernya wanita. Sedangkan priawan adalah istilah untuk seorang yang dilahirkan dalam jenis kelamin perempuan, namun identitas gendernya pria. Seorang individu yang mengubah keadaan fisik alat kelaminnya dari laki-laki menjadi perempuan, atau sebaliknya, baik seluruh ataupun sebagian, disebut dengan transseksual. Pada kondisi tertentu, dapat dijumpai transgender yang juga transseksual; meski di sisi lain, tidak semua transgender ingin melakukan perubahan pada alat kelaminnya.

Orientasi seksual adalah pola ketertarikan seksual, romantis atau emosional seseorang kepada orang lain. Orientasi seksual dapat ditujukan kepada orang dengan jenis kelamin yang berlawanan (laki-laki kepada perempuan, atau sebaliknya), sehingga disebut heteroseksual atau dapat pula ditujukan kepada orang dengan jenis kelamin yang sama (laki-laki kepada laki-laki lain, atau perempuan kepada perempuan lain), sehingga disebut homoseksual. Lesbian adalah istilah informal untuk homoseksual perempuan, dan gay adalah istilah informal untuk heteroseksual laki-laki. Sebagaimana jenis kelamin, orientasi seksual dapat bervariasi dalam berbagai tingkatan antara hetero- dan homoseksual.

Biseksual adalah seseorang yang orientasi seksualnya ditujukan pada kedua jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan, dalam tingkatan tertentu. Ada pula keadaan yang disebut aseksual, dimana seseorang tidak tertarik secara seksual kepada siapapun; dan ada pula keadaan yang disebut sebagai panseksual, keadaan dimana seseorang tertarik pada orang lain, terlepas dari jenis kelamin ataupun identitas-ekspresi gendernya.

Perilaku homoseksual juga dijumpai di alam, tidak hanya pada manusia (Homo sapiens) tetapi juga pada beberapa spesies hewan lain (termasuk primata lain, berbagai spesies mamalia, penguin, dsb). Perilaku tersebut termasuk seks, pencarian pasangan, kasih sayang, ikatan pasangan, dan pengasuhan. Perilaku homoseksual dan biseksual dijumpai pada 1500 spesies, dengan 500 di antaranya terdokumentasi dengan baik (menurut Bagemhil, 1999).

Profil :

Yuda Hananta

Dokter Umum, Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada;
Kandidat PhD Bidang Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Universitas Amsterdam, Belanda;
Peneliti pada Departemen Penyakit Infeksi Dinas Kesehatan Kota Amsterdam;
Awardee PhD Mobility Program 2015, University of Sydney – WHO Collaborating Center for Sexually Transmitted Infections – Western Sydney Sexual Health Center
Pengurus Harian Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Cabang Kota Yogyakarta
Meminati topik seksualitas, penyakit infeksi dan travel medicine.

Facebook Comments