Depresi Dapat Mengancam Jiwa

http://www.apa.org/Images/depression-title-image_tcm7-188201.jpg
Sumber : American Psychological Association (APA)

Dalam kosakata sehari-hari, kata depresi bisa jadi sebuah kata yang sudah tidak asing didengar. Mungkin dengan mudah kata tersebut disebut saat sedang berbincang. Namun, apakah Anda sudah paham betul apa itu depresi? Sebab, bisa jadi tanpa disadari Anda sedang mengalaminya dan bila tak waspada, depresi dapat berujung pada kematian.

Perjalanan hidup yang seringkali tak mulus atau padatnya rutinitas harian, kerap menimbulkan stres yang lambat laun bisa menjadi depresi. Sebuah penelitian terbaru dari Baycrest Centre for Geriatric Care di Toronto, Kanada, mengungkapkan bahwa terlalu banyak stres dapat menyebabkan perubahan otak yang berhubungan dengan depresi dan alzheimer. Dengan kata lain, stres yang berkepanjangan karena tak dikelola dengan baik (stres kronis) akan terpendam dalam jiwa dan dapat menjelma menjadi depresi.

Apa itu depresi?

Depresi adalah gangguan mental yang setiap orang berpotensi mengalaminya. Ilmu kedokteran mendefinisikan depresi sebagai penyakit suasana hati yang melebihi keadaan sedih atau duka cita dan bertahan lama.

Selain itu depresi juga diartikan sebagai suatu perasaan sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan, dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam.

Berbeda dengan stres biasa, meski sama-sama merupakan bagian dari emosi negatif, depresi memiliki gejala yang jauh lebih berat. The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV, tahun 1994), menyebutkan bahwa seseorang yang menderita gangguan depresi memiliki keadaan jiwa yang tertekan atau kehilangan minat atau kesenangan dalam kegiatan sehari-hari secara konsisten setidaknya selama 2 minggu.

Biasanya depresi mempunyai ciri-ciri berupa perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologis seperti perasaan susah, murung, sedih, putus asa, dan tidak bahagia, serta komponen somatik (sistem tubuh) seperti anoreksia, konstipasi, tekanan darah, dan denyut nadi sedikit menurun. Pada gangguan ini sering kali terlihat adanya perilaku diam dan sedih, terutama pada orang yang depresi akibat rasa kecewa karena tidak berhasil dalam menyelesaikan masalahnya.

Waspada Gejalanya

Depresi bervariasi pada setiap individu, tetapi ada beberapa tanda-tanda dan gejala umum. Semakin banyak gejala yang Anda miliki, semakin kuat gejala itu Anda rasakan, dan semakin lama gejala tersebut berlangsung, itu pertanda semakin besar kemungkinan bahwa Anda sedang berhadapan dengan depresi.

Temukan Jawaban Ini: “Apakah Saya Depresi?”

Cek perasaan yang anda rasakan dan samakan dengan poin poin di bawah ini :

  1. Anda merasa putus asa dan tidak berdaya
  2. Anda kehilangan minat dalam pertemanan, melakukan berbagai kegiatan, dan hal-hal yang Anda senangi lainnya
  3. Anda merasa lelah sepanjang waktu
  4. Pola tidur dan nafsu makan telah berubah
  5. Anda tidak dapat berkonsentrasi atau menemukan bahwa tugas-tugas sebelumnya mudah sekarang sulit
  6. Anda tidak dapat mengendalikan pikiran negatif Anda, tidak peduli berapa banyak Anda mencoba
  7. Anda menjadi lebih mudah tersinggung, mudah marah, dan agresif dari biasanya
  8. Anda mengonsumsi alkohol lebih banyak dari biasanya atau terlibat dalam perilaku sembrono lainnya

Jika Anda teridentifikasi dengan (mengalami) beberapa tanda-tanda dan gejala berikut, terutama yang nomor 1 dan nomor 2 dan gejala tersebut terasa tak kunjung menghilang, bisa jadi Anda tergolong orang yang sedang mengalami depresi.

Depresi = Mematikan!

Depresi bukanlah merupakan kasus yang jarang terjadi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa depresi adalah penyakit peringkat keempat di dunia. Riset di negara-negara maju menunjukkan 1 dari 4 perempuan dan 1 dari 10 laki-laki pernah memiliki minimal satu episode depresi berat dalam hidup mereka.

Ancaman depresi meningkat pada mereka yang berusia remaja (11 hingga 24 tahun) atau paruh baya (40-55 tahun). Depresi pada remaja bisa diakibatkan oleh banyak hal, tapi terutama disebabkan permasalahan keluarga. Kemungkinan besar penyebabnya karena terjadi kekerasan fisik, perceraian orang tua, kematian seseorang yang berarti, atau peristiwa buruk yang terjadi dalam keluarga atau orang terdekatnya. Sedangkan depresi di usia paruh baya dipicu oleh gejala-gejala yang terjadi di rumah, lingkungan kerja, dan lingkungan sosialnya.

Sayangnya, depresi masih dianggap bukan suatu masalah serius. Padahal, dampak dari depresi sangat berbahaya sekali. Depresi bisa membunuh dengan sangat cepat tanpa disadari. Ketika seseorang sudah merasa depresi karena hidupnya tidak berarti lagi hal itulah yang akan menyebabkan kematian dengan cara percobaan bunuh diri (sekitar 5-15% penderita depresi berkecenderungan bunuh diri). Sebaliknya, seseorang yang depresi pun bisa dengan mudah melakukan aksi pembunuhan pada orang lain.

Karena itu, depresi tak bisa disepelekan lagi. Apabila anda melihat seseorang mengalami depresi cobalah untuk mengerti dan ajak berbicara. Atau Anda sendiri mulai merasa alami tanda-tanda depresi, sebelum berada di tingkat depresi berat, segeralah bangkit dan atasi gangguan ini.

Stress Berkepanjangan Dapat Mengakibatkan Depresi

Setiap orang mempunyai potensi stress. Stress terjadi karena tekanan pada kondisi psikis seseorang. Sederhananya, stress dapat timbul ketika apa yang didapat tidak sesuai dengan yang diinginkan, sehingga timbul perasaan kecewa maupun tertekan.

Apabila seseorang yang mengalami stress tidak bangkit dari tekanan yang ia dapat, maka kecenderungan depresi sangat tinggi. Namun, tidak semua orang yang mengalami stress akan berujung depresi. Seseorang yang masih memiliki coping stress (penanggulangan stress) baik, ia akan cepat pulih dari kondisi stressnya. Sebaliknya, seseorang yang tidak bisa menanggulangi stress dan menjadi berkepanjangan, sangat mungkin berujung depresi.
Sumber: helpguide.org, medicalnewstoday, mayoclinic, psychologytoday

Facebook Comments